MENGENAL LEBIH DEKAT AHLU AL-SUNNAH WA AL-JAMA’AH (Bagian 1)

MENGENAL LEBIH DEKAT  AHLU AL-SUNNAH

WA AL-JAMA’AH(Bagian 1)

Oleh . Mohammad Sabeni, MA

 Pendahuluan

                     Sebagaimana kita maklumi bersama bahwa  Islam adalah agama  yang  amat  menghargai rasio atau akal selama tidak bertentangan dengan syariat Islam yang berlandasakan al-Quran dan al-Hadist., selain sumber-sumber selain keduanya  yang merupakan  penjabaran terhadap dua sumber utama.  Pada dasarnya apabila kita berbicara tentang pemikiran dalam Islam (Baca: teologi Islam) maka dikenal dua sumber utama yaitu sumber yang bersifat keawhyuan dan sumber  yang berasal hasil pemikiran (rasional). Keduanya tidak diposisikan  sebagai dua sumber yang saling  berhadapan, tetapi diposisikan secara selaras dan seimbang. Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa komando berada pada otoritas keawhyuan yang  besumber dari al-Quran dan al-Hadits.  Hal itulah yang menjadi  perbedaan yang mendasar  antara teologi Islam  dengan  selain Islam.  Begitu pula, teologi yang berkembang di Barat  hanya didasarkan  kepada dasar rasio, sedikit sekali sentuhan nilai-nilai kewahyuan.  Rasulullah  mengisyaratkan kepada kita umat Islam agar  me ngoptimalkan kreativitas berfikir tentang apapun, selama  tidak berfikir tentang dzat  Allah. Itulah batasan yang jelas yang harus dipedomani oleh setiap pemikir muslim  tanpa dibatasi oleh sekat-sekat ras, suku, bangsa maupun Negara.  Salah satu aliran yang dianut oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia adalah ahlu al-sunnah wa al-Jama’ah. Tak terkecuali  kita umat Islam di Indonesia  apapun  organisasi dan kelompoknya  mereka adalah ahlu al-sunnah wa al-jamaah .  Belakangan ini muncul ahlu al-Sunnah  gaya baru  yang dikenal dengan sebutan salafi Plus, sedangkan  sebutan  bagi penganut  ahlu al-sunnah wa al-Jama’ah  dinamakan  kaum  sunny. Melaui artikel sederhana ini saya bermaksud akan menguraikan  hal ihwal  ahlu al-sunnah wa  al-Jama’ah  dengan menggunakan pendekatan  historis, teologis  serta  perkembangannya dari  masa ke masa. Saya berharap dengan tulisan ini pembaca dapat  menemukenali  kebenaran ahlu al-sunnah wa al-Jama’ah  berdasarkan pendapat para  pemikir muslim klasik dan modern.  Untuk memudahkan para pembaca pojok Dosen yang budiman, di dalam uraiaya akan dijelaskan (1) Hakikat ahlu al-sunnah wa al-Jamaah; (2) Sejarah  ahlu al-sunnah wal-Jama’ah;. (3) Karakteristik  ahlu al-sunnah wa al-Jama’ah;  (4) Tokoh-tokoh dan Pemikiran  ahlu al-sunnah wa al-Jama’ah.

 Pembahasan

 Hakikat Ahlu al-Sunnah Wa al-Jama’ah

Kata “.ahli”  diartikan sebagai tanda kepemilikan yang melekat pada orang yang  menyandangny . Kata “ahli” biasanya  tidak berdiri sendiri tetapi harus diringi dengan kata lain seperti ahli agama, ahli  music, ahli gambar, ahli gizi, ahli filsafat, ahli nuklir dan lain sebagainya. Sedangkan kata ahlu yang mengiringi kata  al-sunnah adalah kelompok yang menganut faham sunnah yang telah docontohkan oleh Rasulullah serta dipratikkan oleh para sahabat, tabiin, tabiit tabiin, dan ulama dari genrasi ke generasi berikut sampai saat ini.  Kalimat Sunnah secara etimologi adalah Thoriqoh ( jalan ) meskipun tidak mendapatkan ridlo. Sedangan pengertian Sunnah secara terminlogi yaitu nama suatu jalan yang mendapakan ridlo yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW, para khulafa’ al Rosyidin dan Salaf Al Sholihin. Seperti yang telah disabdakan oleh Nabi

 :
عَلَيكُمْ بِسُنَّتيِ وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِي
Ikutilah tindakanku dan tindakan para khlafaurrosyidin setelah wafatku.

Sedangkan makna  lain As Sunnah menurut bahasa adl As Sirah baik yg buruk ataupun yg baik. Khalid bin Zuhair Al Hudzali berkata:”Jangan kamu sekali-kali gelisah krn jalan yg kamu tempuh.Keridhaan itu ada pada jalan yg dia tempuh sendiri.”

Menurut ulama hadis, sunnah bererti sesuatu yang disandarkan kepada Nabi s.a.w., berupa ucapan, perbuatan, ketetapan, sifat bawaan, karakter, akhlak, atau perilaku, sama ada yang terjadi sebelum atau setelah kenabian. (Tauzih an-Nadzar ila Ushul al-Atsar, Thahir as-Simasqi, hal. 3)

Menurut ulama ushul fiqh, sunnah adalah sesuatu yang dinukil dari Rasulullah s.a.w. yang tidak termaktub secara tekstual di dalam al-qur’an akan tetapi tekstualnya dari beliau sebagai penjelas dari al-Qur’an. (al-Muwafaqat, asy-Syatibi, jil. 4, hal. 3)

Imam asy-Syatibi berkata, “Sunnah menjadi dari bid’ah, dikatakan Fulan di atas as-Sunnah bila ia berbuat sesuai dengan ajaran Nabi s.a.w., atau Fulan di atas kebid’ahan bila perbuatannya berseberangan dengan ajaran beliau.” (al-Muwafaqat, asy-Syatibi, jil. 4, hal. 4)

Sheikh al-Islam Ibnu Taimiyah menukil perkataan Imam Abu Hasan Muhammad bin Abdul Malik al-Kharji, “Sunnah adalah meniti jalan Rasulullah s.a.w. dan meniru tingkah laku beliau dalam tiga hal; ucapan, perbuatan, dan aqidah.” (Majmu’ Fatawa, jil. 4, hal. 180)

Ibnu Rejab berkata, “Sunnah ialah jalan yang ditempuh mencakup seluruh ajaran Rasulullah s.a.w., para Khulafaurrasyidun Radhiyallahu ‘Anhum, sama ada berupa keyakinan, tindakan, dan ucapan. Oleh kerana itu, ruang lingkup sunnah menurut generasi salaf mencakup itu semua. Demikian itu diriwayatkan dari Hasan al-Basri, al-Auza’i, dan Fudhail bin Iyadh.” (Muqaddimah Shiyanah al-Insan ‘an Was-was Asy-Sheik ad-Dakhlan, M. Rasyid Ridha, hal. 7)

Sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu, menafsirkan istilah Al Jama’ah:

الجماعة ما وافق الحق وإن كنت وحدك

Al Jama’ah adalah siapa saja yang sesuai dengan kebenaran walaupun engkau sendiri

Dalam riwayat lain:

وَيحك أَن جُمْهُور النَّاس فارقوا الْجَمَاعَة وَأَن الْجَمَاعَة مَا وَافق طَاعَة الله تَعَالَى

Ketahuilah, sesungguhnya kebanyakan manusia telah keluar dari Al Jama’ah. Dan Al Jama’ah itu adalah yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala” (Dinukil dari Ighatsatul Lahfan Min Mashayid Asy Syaithan, 1/70)

Ibnu Hajar Al Asqalani (wafat 852H) menukil penjelasan Imam Ath Thabari (wafat 310H) menjabarkan makna-makna dari Al Jama’ah:

قَالَ الطَّبَرِيُّ اخْتُلِفَ فِي هَذَا الْأَمْرِ وَفِي الْجَمَاعَةِ فَقَالَ قَوْمٌ هُوَ لِلْوُجُوبِ وَالْجَمَاعَةُ السَّوَادُ الْأَعْظَمُ ثُمَّ سَاقَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ أَنَّهُ وَصَّى مَنْ سَأَلَهُ لَمَّا قُتِلَ عُثْمَانُ عَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُنْ لِيَجْمَعَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ عَلَى ضَلَالَةٍ وَقَالَ قَوْمٌ الْمُرَادُ بِالْجَمَاعَةِ الصَّحَابَةُ دُونَ مَنْ بَعْدَهُمْ وَقَالَ قَوْمٌ الْمُرَادُ بِهِمْ أَهْلُ الْعِلْمِ لِأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُمْ حُجَّةً عَلَى الْخَلْقِ وَالنَّاسُ تَبَعٌ لَهُمْ فِي أَمْرِ الدِّينِ قَالَ الطَّبَرِيُّ وَالصَّوَابُ أَنَّ الْمُرَادَ مِنَ الْخَبَرِ لُزُومُ الْجَمَاعَةِ الَّذِينَ فِي طَاعَةِ مَنِ اجْتَمَعُوا عَلَى تَأْمِيرِهِ فَمَنْ نَكَثَ بَيْعَتَهُ خَرَجَ عَنِ الْجَمَاعَةِ

“Ath Thabari berkata, permasalahan ini (wajibnya berpegang pada Al Jama’ah) dan makna Al Jama’ah, diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama berpendapat hukumnya wajib. Dan makna Al Jama’ah adalah:

  1. as sawadul a’zham. Kemudian Ath Thabari berdalil dengan riwayat Muhammad bin Sirin dari Abu Mas’ud bahwa beliau berwasiat kepada orang yang bertanya kepadanya ketika Utsman bin ‘Affan terbunuh, Abu Mas’ud menjawab: “hendaknya engkau berpegang pada Al Jama’ah karena Allah tidak akan membiarkan umat Muhammad bersatu dalam kesesatan“.
  2. sebagian ulama berpendapat maknanya adalah para sahabat, tidak termasuk orang setelah mereka.
  3. sebagian ulama berpendapat maknanya adalah para ulama. Karena Allah telah menjadikan mereka hujjah bagi para hamba. Para hamba meneladani mereka dalam perkara agama.

Ath Thabari lalu berkata, yang benar, makna Al Jama’ah dalam hadits-hadits perintah berpegang pada Al Jama’ah adalah orang-orang yang berada dalam ketaatan, mereka berkumpul dalam kepemimpinan. Barangsiapa yang mengingkari baiat terhadap pemimpinnya (baca: merasa tidak berkewajiban untuk mentaati pemimpin sah kaum muslimin, ed), maka ia telah keluar dari Al Jama’ah” (Fathul Baari, 13/37)

Imam Asy Syathibi (wafat 790H) juga merinci makna-makna dari Al Jama’ah:

اختلف الناس في معنى الجماعة المرادة في هذه الأحاديث على خمسة أقوال :
أحدها : أنها السواد الأعظم من أهل الإسلام … فعلى هذا القول يدخل في الجماعة مجتهدو الأمة وعلماؤها ، وأهل الشريعة العاملون بها ، ومن سواهم داخل في حكمهم ؛ لأنهم تابعون لهم مقتدون بهم .
الثاني : أنها جماعة أئمة العلماء المجتهدين ، فعلى هذا القول لا مدخل لمن ليس بعالم مجتهد ؛ لأنه داخل في أهل التقليد فمن عمل منهم بما يخالفهم فهو صاحب الميتة الجاهلية ، ولا يدخل أيضا أحد من المبتدعين .
الثالث : أن الجماعة هي الصحابة على الخصوص . فعلى هذا القول فلفظ (الجماعة) مطابق للرواية الأخرى في قوله صلى الله عليه وسلم : “ما أنا عليه وأصحابي” .
الرابع : أن الجماعة هي أهل الإسلام إذا أجمعوا على أمر ، فواجب على غيرهم من أهل الملل اتباعهم ثم تعقب الشاطبي هذا القول بقوله : ” وهذا القول يرجع إلى الثاني ، وهو يقتضي أيضا ما يقتضيه ، أو يرجع إلى القول الأول ، وهو الأظهر ، وفيه من المعنى ما في الأول من أنه لا بد من كون المجتهدين منهم ، وعند ذلك لا يكون مع اجتماعهم بدعة أصلا فهم إذن الفرقة الناجية ” .
الخامس : ما اختاره الطبري الإمام من أن الجماعة جماعة المسلمين إذا اجتمعوا على أمير ، فأمر عليه الصلاة والسلام بلزومه ونهى عن فراق الأمة فيما اجتمعوا عليه من تقديمه عليهم .

.“Para ulama berbeda pendapat mengenai makna Al Jama’ah yang ada dalam hadits-hadits dalam lima pendapat:

  1. As sawadul a’zham dari umat Islam. Termasuk dalam makna ini para imam mujtahid, para ulama, serta ahli syariah yang mengamalkan ilmunya. Adapun selain mereka juga dimasukkan dalam makna ini karena diasumsikan hanya mengikuti orang-orang tadi”
  2. Para imam mujtahid. Dalam makna ini, tidak termasuk orang-orang yang bukan imam mujtahid karena mereka hakikatnya adalah ahli taqlid. Maka barangsiapa yang beramal dengan keluar dari pendapat para imam mujtahid, lalu mati, maka matinya sebagai bangkai jahiliyah. Dalam makna ini tidak termasuk juga seorang pun dari ahlul bid’ah (artinya, adanya pendapat yang beda dari ahli bidah tidaklah mempengaruhi keabsahan ijma, ed).
  3. Para sahabat nabi saja. Makna ini sesuai dengan riwayat dari Nabi yang menafsirkan makna Al Jama’ah, yaitu:

ما أنا عليه وأصحابي

Siapa saja yang berpegang padaku dan para sahabatku

  1. Umat Islam jika bersepakat dalam sebuah perkara (baca: ijma’). Maka wajib bagi orang-orang yang menyimpang untuk mengikuti mereka. Asy Syathibi lalu memberi catatan: “Makna ini sebenarnya kembali pada makna kedua (para imam mujtahid), dan berkonsekuensi sama seperti konsekuensi dari makna kedua. Atau kembali pada makna pertama, dan inilah yang lebih nampak. Dan secara makna pun, sama seperti makna pertama. Karena sudah pasti butuh peran para imam mujtahid di antara mereka barulah bisa terwujud umat tidak akan bersatu dalam kesesatan, bahkan merekalah golongan yang selamat”
  2. Pendapat yang dipilih Imam Ath Thabari, yaitu bahwa Al Jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin yang berkumpul di bawah pemerintahan. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan ummat untuk berpegang pada pemerintahnya dan melarang memecah belah apa yang telah dipersatukan oleh umat sebelumnya.

Imam Asy Syathibi kemudian menyimpulkan:

قال الشاطبي : ” وحاصله أن الجماعة راجعة إلى الاجتماع على الإمام الموافق لكتاب الله والسنة ، وذلك ظاهر في أن الاجتماع على غير سنة خارج عن الجماعة المذكورة في الأحاديث المذكورة ؛

“Kesimpulannya, Al Jama’ah adalah bersatunya umat pada imam yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah. Dan jelas bahwa persatuan yang tidak sesuai sunnah tidak disebut Al Jama’ah yang disebut dalam hadits-hadits” (Al I’tisham 2/260-265, dinukil dari fatwa Lajnah Ad Daimah 76/276)

Al Munawi (wafat 1031H) menukil perkataan Syihabuddin Abu Syaamah (wafat 665H) dan Al Baihaqi (wafat 458H) mengenai makna Al Jama’ah:

قال أبو شامة: حيث جاء الأمر بلزوم الجماعة فالمراد به لزوم الحق وإتباعه وإن كان المتمسك به قليلا والمخالف كثيرا أي الحق هو ما كان عليه الصحابة الأول من الصحب ولا نظر لكثرة أهل الباطل بعدهم قال البيهقي: إذا فسدت الجماعة فعليك بما كانوا عليه من قبل وإن كنت وحدك فإنك أنت الجماعة حينئذ

“Abu Syamah berkata, ketika dalam hadits terdapat perintah berpegang pada Al Jama’ah, yang dimaksud dengan berpegang pada Al Jama’ah adalah berpegang pada kebenaran dan menjadi pengikut kebenaran walaupun ketika itu hanya sedikit jumlahnya dan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran banyak jumlahnya. Maksud Abu Syaamah adalah bahwa kebenaran itu adalah mengikuti pemahaman para sahabat Nabi, bukan melihat banyak jumlah, ini pada orang-orang yang datang setelah mereka. Al Baihaqi berkata, ketika Al Jama’ah (baca: kaum muslimin saat ini) telah bobrok maka hendaknya engkau berpegang pada pemahaman orang terdahulu (para Salaf) walaupun engkau sendirian, maka ketika itu engkaulah Al Jama’ah” (Faidul Qadhir, 4/99)

Jika kita telah memahami penjelasan para ulama mengenai makna Al Jama’ah, walaupun definisi mereka berbeda, namun pokok maknanya sama. Bahwa yang dimaksud dengan Al Jama’ah adalah umat Islam yang berkumpul bersama imam mujtahid dan para ulama mereka yang senantiasa meneladani ajaran Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabat Nabi dan mereka berbaiat pada penguasa muslim yang sah serta tidak memberontak kepadanya.

Hadits-Hadits Tentang As Sawadul A’zham

Untuk memahami makna as sawaadul a’zham, mari kita simak beberapa hadits yang memuatnya:

إن أمتي لن تجتمع على ضلالة، فإذا رأيتم اختلافا فعليكم بالسواد الأعظم فإنه من شذ شذ إلى النار

Sesungguhnya ummatku tidak akan bersatu dalam kesesatan. Maka jika kalian melihat perselisihan, berpeganglah pada as sawaadul a’zham. Barangsiapa yang menyelisihinya akan terasing di neraka

Dalam riwayat lain:

إن أمتي لا تجتمع على ضلالة فإذا رأيتم الاختلاف فعليكم بالسواد الأعظم يعني الحق وأهله

Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu dalam kesesatan. Maka jika kalian melihat perselisihan, berpeganglah pada as sawaadul a’zham yaitu al haq dan ahlul haq” (HR. Ibnu Majah 3950, hadits hasan dengan banyaknya jalan kecuali tambahan من شذ شذ إلى النار sebagaimana dikatakan oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 1331)

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ، وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ، وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ، إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ، فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي، فَقِيلَ لِي: هَذَا مُوسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ، وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ، فَقِيلَ لِي: انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ الْآخَرِ، فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ، فَقِيلَ لِي: هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ

Diperlihatkan kepadaku umat manusia seluruhnya. Maka akupun melihat ada Nabi yang memiliki pengikut sekelompok kecil manusia. Dan ada Nabi yang memiliki pengikut dua orang. Ada Nabi yang tidak memiliki pengikut. Lalu diperlihatkan kepadaku sekelompok hitam yang sangat besar, aku mengira itu adalah umatku. Lalu dikatakan kepadaku, ‘itulah Nabi Musa Shallallhu’alaihi Wasallam dan kaumnya’. Dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke arah ufuk’. Aku melihat sekelompok hitam yang sangat besar. Dikatakan lagi, ‘Lihat juga ke arah ufuk yang lain’. Aku melihat sekelompok hitam yang sangat besar. Dikatakan kepadaku, ‘Inilah umatmu dan diantara mereka ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab’.” (HR. Bukhari 5705, 5752, Muslim, 220)

  1. Sejarah ahlu al-sun ah  Wa al-Jama’ah

Menurut Ibnu Taimiyah mazhab ahlussunah  wal Jamaah adl mazhab yg telah ada sejak dulu. Ia sudah di kenal sebelum Allah menciptakan Abu Hanifah Malik Syafi’i dan Ahmaf. Ahli Sunnah ialah madzab sahabat yg telah menerimanya dari Nabi mereka. Barang siapa menentang itu menurut pandangan Ahli Sunnah berarti ia pembuat bid’ah. Mereka telah sepakat bahwa ijma’ orang-orang sesudah sahabat. Awal terjadinya penamaan Ahlus Sunna wal Jama’ah adl ketika terjadinya perpecahan sebagaimana yg  “dikhabarkan Nabi saw. Karena sebelum terjadinya perpecahan tidak ada istilah-istilah itu sedikit pun baik istilah Ahlus Sunna wal Jama’ah Syi’ah Khawarij atau lainnya. Pada saat itu kaum muslimin seluruhnya berada di atas dien dan pemahaman yg satu yaitu Islam. “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” Cobaan itu muncul pada permulaan abad ketiga masa pemerintahan al-Ma’mun dan al-Mu’tashim kemudian al-Watsiq pada saat kaum Jahmiyah menafikkan sifat-sifat Allah dan menyerukan menusia agar mengikuti paham mereka. madzab ini di anut oleh tokoh-tokoh Rafidlah yg mendapat dukungan pihak penguasa. Terhadap penyimpangan tersebut Madzab Ahli Sunnah tentu menolak. oleh krn itu mereka sering mendapat ancaman ataupun siksaan. Adapula yg di bunuh ditakut-takuti ataupun dibujuk rayu. Namun dalam menghadapi situasi yg seperti ini Imam Ahmad tetap tabah dan tegar sehingga mereka memenjarakan beliau sekian beberapa waktu lamanya. kemudian mereka menantang mereka utk berdebat. dan terjadilah berdebatan yg amat panjang.

  1. Karakteristik Ahlu as-Sunnah  Wa al-Jamaah

Ahlussunnah Wal Jama’ah menyakini bahwa Allah itu ada tanpa arah dan tanpa tempat. Hal ini di antara yang membedakan Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan aliran-aliran yang lain. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

ãÏÛ$sù ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur 4 Ÿ@yèy_ ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& $[_ºurø—r& z`ÏBur ÉO»yè÷RF{$# $[_ºurø—r& ( öNä.ätu‘õ‹tƒ ÏmŠÏù 4 }§øŠs9 ¾ÏmÎ=÷WÏJx. Öäï†x« ( uqèdur ßìŠÏJ¡¡9$# 玍ÅÁt7ø9$# ÇÊÊÈ  

11. (dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.(QS.al-Syura:11)

Dan dalam hadits Rasulullah SAW

Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatu pun selain-Nya.”

 

Dasar-Dasar Akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah

  1. a.      Al-Qur’an

Adalah pokok dari semua rgumentasi dan dalil. Al-Qur’an adalah dalil yang membuktikan kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW dan dalil yang membuktikan benar dan tidaknya suatu ajaran. Al-Qur’an juga me5rupakan kitab Allah terakhir yang menegaskan pesan-pesan kitab-kitab samawi sebelumnya. Allah memerintahkan dalam al-Qur’an agar kaum muslimin senantiasa mengembalikan persoalan yang diperselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS.al-Nisa’:59)

  1. Hadits

Adalah dasar kedua dalam penetapan akidah-akidah dalam Islam. Tetapi tidak semua hadits dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah. Hadits yang dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah adalah hadits yang perawinya disepakatiu dapat dipercaya oleh para ulama.

  1. Ijma’ Ulama

Yang mengikuti ajaran Ahlul Haqq dapat dijadikan argumentasi dalam menetapkan akidah. Dalam hal ini seperti dasar yang melandasi penetapan bahwa sifat-sifat Allah itu qadim adalah ijma’ ulama yang qath’i.

  1. Akal

Dalam ayat-ayat al-Qur’an Allah SWT telah mendorong hamba-hamba-Nya agar merenungkan semua yang ada di alam jagad raya ini, agar dapat mengantar kepada keyakinan tentang kemahakuasaan Allah.

Diantara problem yang cukup serius dalam sejarah pemikiran islam  adalah problematika seputar hubungan syara’ dengan akal. Problematika ini telah menyita perhatian dan perdebatan panjang para pakar teolog dan filsafat dengan upaya menawarkan sekian banyak solusi. Bahkan problem tersebut juga cukup menyita perhatian kalangan intelektual Yahudi dan Kristen pada abad pertengahan di Eropa.

Dikalangan kaum teolog Muslim, yang berupaya mengkaji akidah-akidah islam, ada tiga aliran yang berbeda dalam menyikapi seputar hubungan syara’ dengan akal.

  • Aliran Mu’tazilah yang berpandangan bahwa akal didahulukan daripada syara’
  • Aliran Hasyawiyah, Zhahiriyah dan semacamnya yang hanya mengakui dominasi syara’, dan tidak memberikan peran kepada akal berkaitan dengan ajaran yang dibawa oleh syara’.
  • Aliran Ahlussunnah Wal Jama’ah yang memiliki pandangnan yang khas terkait dengan problem hubungan syara’ dengan akal. Dalam hal ini Ahlussunnah Wal Jama’ah mengambil sikap moderat dan seimbang, tidak ekstrim kiri dan kanan. Menurut Ahlussunnah Wal Jama’ah, semua kewajiban agama hanya dapat diketahui melalui informasi dari syara’. Sedangkan terkait dengan keyakinan hanya dapat dicapai dengan akal.

Posisi Akal Ketika Bertentangan dengan Naql

Sekarang,apabila ahlussunah wal-jama’ah menggabungkan antara naql dengan akal,maka apa yang harus didahulukan ketika terjadi pertentangan antara ketetapan naql dengan ketetapan akal? Untuk menjawab pertanyaan ini marilah kita ikuti terlebih dahulu penjelasan tentang kaedah-kaedah berikut ini :

Pertama,menurut ketetapan ahli nazhar (nalar),sarana yang dapat mengantar seseorang pada keyakinan ada tiga hal,yaitu akal,panca indera yangsehat dan informasi yang jujur (al-khabar al-shadiq).

Kedua,islam adalah agama naql yang diperkuat dengan akal.

Ketiga, pertentangan tidak akan terjadi antara ketetapan akan dengan ketetapan naql ketika naql tersebut berupa nash (teks) yang definitive datangnya (qath’iy al-wurud)dan definitive maksudnya (qath’iy al-dilalah).

Keempat,beberapa pokok akidah dalam islam yang paling penting ternyata kebenarannya hanya dapat di buktikan berdasarkan argumentasi akal.

Kelima,sebenarnya teori bahwa ketetapan akal harus didahulukan ketika terjadi pertentangan antara ketetapan akaldengan ketetapan naql,atau melakukan ta’wil terhadap naql ketika bertentangan dengan ketetapan akal yang definitive tidak hanya diambil oleh madzhab al-asy’ari saja.  (Bersambung)

MEMBUMIKAN SIFAT AMÂNAH DI TENGAH KOMUNITAS UNISMA BEKASI (Bagian 1)

PENDAHULUAN

“Amânah ”  dalam konteks  I’tiqodiyyah (baca: Persoalan keimanan) merupakan salah satu dari empat sifat yang wajib bagi para nabi dan rasul yang wajib kita imani dengan sepenuh hati tanpa ada keraguan dan keberatan sedikitpun. Al- amânah  bukan sekedar label yang melekat pada diri para nabi dan rasul sebagai  panutan (baca: imam) para umat  sesuai dengan tugas  risalah mereka masing . Di dalam menjalankan misi tidak sedikit mereka mengalami hambatan, tantangan, gangguan dan ancaman  dari masing-masing kaumnya  sebelum mereka memperoleh pengakuan dan kesuksesan dari umat masing-masing.

Di antara Nabi  yang mengalami hal di atas  adalah  Nabi  Yunus bin Matta  lari  dari  kaumnya  dan sempat  berada   berada di dalam perut ikan besar  bernama “Nun” selama beberapa  waktu.  Ibnu Atsir dalam kitabnya al-Kamil fi al-Tarikh juz 1 halaman 130 menjelaskan bahwa Nabi Yunus merupakan salah seorang nabi dan rasul yang nasabnya dikaitkan dengan ibunya bernama Matta sebagaimana halnya nabi Isa bin Maryam. Beliau tinggal di Muushul tepatnya di Ninawa.

Baca lebih lanjut

ISLAM : SISTEM KEHIDUPAN BERBASIS AQIDAH ISLAMIYAH

Allah  telah menciptakan  i manusia sebagai makhluk  Istimewa yang banyak diberikan fasilitas atau sarana kehidupan yang tidak akan pernah diberikan dan dimiliki oleh makhluk lain sekalipun malaikat yang diciptakan dari unsur-unsur yang suci. Apa saja yang terdapat pada manusia begitu indah dan serasi baik dari tata letak maupun fungsi-fungsi biologis, fisiologis maupun psikologis. Kehadiran manusia banyak melahirkan sudut pandang yang beraneka ragam dan corak yang pada akhirnya memunculkan model dan pola kehidupan yang bervariasi. Para ahli sosoilogi memandang manusia sebagai makhluk di dalam menata hidup dan kehidupannya sangat bergantung kepada manusia lainnya dan alam sekitar di mana ia hidup. Ssehingga diperlukan nilai-nilai dasar yang melandasi kehidupannya ada yang berlandaskan kapitalis, sosialis, demokratis, dan ada pula berbasis theologis atau nilai-nilai keagamaan.
Baca lebih lanjut

ISLAM : SEBUAH SISTEM PEMIKIRAN

Telah hadir netbook  Islamy  Anda Tertarik klik tautan dibawah ini

http://www.ahmadzainuddin.com/netbookislami/?id=sabeni

Sistem  merupakan seperangkat prinsip dan aturan dalam melakukan sesuatu, metode dan tata cara ( Collins English Dictionary: 1980 ).  Sedangkan pemikiran sebagaimana dikemukan oleh Woodworth adalah suatu upaya mental yang dilakukan oleh manusia untuk menemukan kesimpulan berdasarkan pada premise-premise (Woodworth, Robert, Psycholoy 1971: 615). Maka jika dikatakan bahwa Islam adalah sebuah sistem pemikiran, berarti ia adalah sejumlah prinsip yang mengatur mekanisme berfikir yang diarahkan pada penemuan kesimpulan rasional berdasarkan pada konsep-konsep Islam yang dirumuskan dari premise-premise al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Akhir-akhir ini hanya segelintir orang yang memahami Islam sebagai sebuah sistem pemikiran yang diakibatkan oleh kelemahan mendasar yaitu (1) lemahnya penguasaan membaca original resources text (naskah kitab-kitab karya para ulama salaf berbahasa Arab) dalam berbagai bidang keilmuan; ( 2) Pengkajian-pengkajian Islam umumnya dilakukan secara pragmatis dan praktis dan cenderung menghindari hasil-hasil ijtihad para ulama salaf di dalam membahas suatu persoalan Ke-Islaman.

Baca lebih lanjut

KETERAMPILAN MENGADAKAN VARIASI GAYA MENGAJAR

Telah hadir netbook  Islamy  Anda Tertarik klik tautan dibawah ini

http://www.ahmadzainuddin.com/netbookislami/?id=sabeni

Baca lebih lanjut

KETERAMPILAN MEMBERI PENGUATAN

Telah hadir netbook  Islamy  Anda Tertarik klik tautan dibawah ini

http://www.ahmadzainuddin.com/netbookislami/?id=sabeni

Hakikat dan Manfaat Penguatan

Penguatan adalah respons terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali perilaku itu. Teknik pemberian penguatan dalam kegiatan pembelajaran dapat dilakukan secara verbal dan nonverbal. Penguatan verbal merupakan penghargaan yang dinyatakan dengan lisan, sedangkan penguatan nonverbal dinyatakan dengan mimik, gerakan tubuh, pemberian sesuatu, dan lain-lainnya. Dalam rangka pengelolaan kelas, dikenal penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif bertujuan untuk mempertahankan dan memelihara perilaku positif, sedangkan penguatan negatif merupakan penguatan perilaku dengan cara menghentikan atau menghapus rangsangan yang tidak menyenangkan.

Baca lebih lanjut

MEMBUKA DAN MENUTUP PELAJARAN

 

KETERAMPILAN MEMBUKA DAN

MENUTUP PELAJARAN

 

Telah hadir netbook  Islamy  Anda Tertarik klik tautan dibawah ini

http://www.ahmadzainuddin.com/netbookislami/?id=sabeni

Membuka Pelajaran

Kalimat-kalimat awal yang diucapkan guru merupakan penentu keberhasilan jalannya seluruh pelajaran. Tercapainya tujuan pengajaran bergantung pada metode mengajar guru di awal pelajaran. Seluruh rencana dan persiapan sebelum mengajar dapat menjadi tidak berguna jika guru gagal dalam memperkenalkan pelajaran. Dalam tahap ini, yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah menetapkan sikap dan minat yang benar di antara anggota kelas.

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.