ISLAM : SEBUAH SISTEM PEMIKIRAN

Telah hadir netbook  Islamy  Anda Tertarik klik tautan dibawah ini

http://www.ahmadzainuddin.com/netbookislami/?id=sabeni

Sistem  merupakan seperangkat prinsip dan aturan dalam melakukan sesuatu, metode dan tata cara ( Collins English Dictionary: 1980 ).  Sedangkan pemikiran sebagaimana dikemukan oleh Woodworth adalah suatu upaya mental yang dilakukan oleh manusia untuk menemukan kesimpulan berdasarkan pada premise-premise (Woodworth, Robert, Psycholoy 1971: 615). Maka jika dikatakan bahwa Islam adalah sebuah sistem pemikiran, berarti ia adalah sejumlah prinsip yang mengatur mekanisme berfikir yang diarahkan pada penemuan kesimpulan rasional berdasarkan pada konsep-konsep Islam yang dirumuskan dari premise-premise al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Akhir-akhir ini hanya segelintir orang yang memahami Islam sebagai sebuah sistem pemikiran yang diakibatkan oleh kelemahan mendasar yaitu (1) lemahnya penguasaan membaca original resources text (naskah kitab-kitab karya para ulama salaf berbahasa Arab) dalam berbagai bidang keilmuan; ( 2) Pengkajian-pengkajian Islam umumnya dilakukan secara pragmatis dan praktis dan cenderung menghindari hasil-hasil ijtihad para ulama salaf di dalam membahas suatu persoalan Ke-Islaman.

Salah satu ayat yang menganjurkan manusia beriman agar masuk ke dalam Islam secara kaffah(menyeluruh) terdapat pada surat al-Baqrah  sebagai berikut :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.

Para ulama tafsir seperti Imam Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir dalam tafsirnya al-Thabary, juz 4 halam 257 menjelaskan  bahwa yang dimaksud dengan al-Silmu adalah Islam. Hal senada diungkapkan dalam beberapa tafsir seperti Ibnu Kasir, Al-Baghawy, al-Alusy, fath al-Qadir, Al-Razy, al-Baidhowy, al-Mawardy, al-Khazin dan masih banyak lagi tafsir yang menyebutkan seperti di atas.

Menurut Imam شهاب الدين محمود ابن عبدالله الحسيني الألوسي dalam tafsirnya روح المعاني في تفسير القرآن العظيم والسبع المثاني, juz 2 halaman 184 bahwa ayat di atas diturunkan berkenaan dengan masuk Islam Abdullah ibn Salam dan teman-temannya..Meskipun sudah masuk Islam tetapi mereka berkeinginan untuk melaksanakan syariat Nabi Musa serta menghidup kegiatan ibadah pada hari Sabtu serta menghindari diri untuk memakan daging dan susu onta setelah mereka masuk Islam.

Rasulullah SAW  15 abad yang  lalu telah meletakkan pondasi Islam dalam sabdanya sebagai berikut :

عن عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ السَّاعَةِ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا قَالَ أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِي يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنْ السَّائِلُ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ (رواه مسلم)

Artinya : Dari Umar rodhiyallohu’anhu juga, beliau berkata: Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata: ”Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.” Kemudian Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam menjawab: ”Islam yaitu: hendaklah engkau bersaksi tiada sesembahan yang haq disembah kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh. Hendaklah engkau mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Romadhon, dan mengerjakan haji ke rumah Alloh jika engkau mampu mengerjakannya.” Orang itu berkata: ”Engkau benar.” Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya. Orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman”. (Rosululloh) menjawab: ”Hendaklah engkau beriman kepada Alloh, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk.”Orang tadi berkata: ”Engkau benar.” Lalu orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang ihsan.” (Beliau) menjawab: “Hendaklah engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun jika engkau tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau.” Orang itu berkata lagi: ”Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat.” (Beliau) mejawab: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Orang itu selanjutnya berkata: ”Beritahukanlah kepadaku tanda-tandanya.” (Beliau) menjawab: ”Apabila budak melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.” Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya. Lalu Nabi shollallohu ’alaihi wasallam bersabda: ”Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu ?”. Aku menjawab: ”Alloh dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui.” Lalu beliau bersabda: ”Dia itu adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.”(HR. Muslim).

Dari hadis di atas dapatlah kita fahami bahwa Islam adalah agama yang didasarkan kepada Islam, iman dan ihsan sebagai trilogy kerangka landasan Islam. Pada bagian akhir hadis tersebut dijelaskan tentang tanda-tanda datangnya hari kiamat.

Atas dasar firman Allah dan sabda Rasulullah maka setiap muslim  diharuskan memahami dan mengamalkan Islam secara utuh dalam bingkai pengabdian total (total submission) dan menghindari kesalahfahaman dalam memahami dan mengamalkan Islam. Kesalahpahaman yang sering muncul dalam pengertian kontemporer mengenai Islam disebabkan  karena Islam dipahami sebagai agama dalam pengertian yang tidak utuh. Muhammad  Imarah  dalam  bukunya  Ma’rakah al-Mushthalahat baina  al-Gharb wa al-Islam   dan telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia  dengan  judul  Perang Terminologi Islam  Versus Barat Di dunia Barat pada umumnya agama (religion) dikatakan sebagai faith: yaitu keyakinan pribadi yang dapat dilihat dari berbagai bentuk ekspresi. Dengan demikian jika menerima Islam sebagai keyakinan pribadi — yang hanya berkaitan dengan kesalehan individu — berarti telah membatasi wilayah pengaruh dan geraknya hanya pada masalah-masalah ibadah praktis, upacara keagamaan dan ucapan religius yang tidak berdampak pada konsep-konsep pemikiran mengenai wilayah-wilayah lain. Islam lebih dari sekedar agama seperti yang secara ketat dipahami oleh Barat sekuler pada umumnya. Sebab misi utama Islam diantaranya adalah membangkitkan gerakan perubahan sosial dan meluruskan pola pikir umat manusia dengan acuan pandangan dunia tauhid — yaitu menerjemahkan tauhid dalam sikap, perilaku dan pemikiran — dalam rangka menegakkan keadilan di bawah bimbingan Ilahi di muka bumi. Istilah agama dalam konotasi Barat tidak mancakup wilayah dan bidang pengaruh Islam. Inilah sebabnya Islam disebut ad-Din (Ali Imran: 19, 83, al-Mumtahanah: 9 dan sejumlah ayat lainnya), atau jalan hidup, bukan sekedar agama.

Secara etimologis istilah ad-Din dalam Bahasa Arab dipakai untuk memberi empat macam  arti (Manzhur, Ibnu, Lisan al-‘Arab: entry: dana). Pertama, mempunyai arti hak untuk menguasai, mendominasi, memerintah dan menaklukkan. Kedua, memberi arti mirip dengan arti pertama akan tetapi berbeda penekanannya, yaitu patuh, tunduk, pasrah dan merendahkan diri. Ketiga, memberi arti syariah atau rambu-rambu jalan yang harus dipatuhi, hukum, adat istiadat dan kebiasaan. Keempat, memberi arti balasan atas perbuatan, pengadilan, dan perhitungen neraca amal.

Secara konseptual ad-Din adalah kode dan jalan yang telah dijelaskan oleh AIlah yang mencakup keempat arti literal ad-Din, yaitu siap mengakui kekuasaan Allah sebagai pemegang otoritas mutlak, siap dan pasrah menerima aturan-aturan hukum dan syariah-Nya dan akhirnya menerima dan mengakui bahwa hanya Allah-lah sebagai satu-satunya Hakim kelak di hari pengadilan. Dari sini lalu dapat dimaklumi, mengapa banyak mujaddid Muslim lebih cenderung menggunakan terma ad-Din atau al-Islam seperti Ibnu Badis, Hasan al-Banna, al-Maududi dan lain-lainnya. Al-Qur’an sendiri menggunakan terma ad-Din untuk menegaskan pengertian komprehensif yang menunjukkan satu keutuhan sistem hidup yang harus dipegang dalam kehidupan manusia pada setiap masa dan tempat. Dalam al-Qur’an istilah ad-Din juga menunjukkan suatu kemapanan sistem  pemikiran, ekonomi, politik, sosial dan moral yang dengan demikian mencakup seluruh aspek kehidupan (Yusuf: 76).

Kata ad-Din — bentuk ma’rifah dengan artikel al — dalam Bahasa Arab menunjukkan jalan hidup tertentu, al-Islam. Sedangkan kata Din — bentuk nakirah tanpa artikel al — menunjukkan satu sistem agama, aturan, atau pemikiran tidak tertentu. Oleh karenanya istilah ad-Din dan al-Islam digunakan dalam satu pengertian, yaitu agama abadi yang telah ada semenjak awal kehidupan manusia di muka bumi.

Pada tingkat kosmologis, al-Qur’an menyatakan bahwa al-Islam yang berarti menerima dan patuh secara total kepada Allah dan aturan hukum yang telah ia berikan merupakan agama jagad raya (Ali Imran: 83, al-An’aam: 38)

Pada tingkat kehidupan umat manusia al-Qur’an menjajaki sejarah baru umat manusia sejauh masa Nabi Nuh as menunjukkan bahwa ia dan anak cucunya termasuk Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Musa, Nabi Yusuf dan Nabi Isa as mereka semua ialah pembawa risalah ad-Din atau al-Islam. Tidak satu pun diantara mereka yang menyembah selain Allah dan mereka semua disebut Muslim. Secara singkat al-Qur’an menyatakan bahwa menerima al-Islam atau ad-Din sebagai satu cara model hidup: sistem keyakinan, pemikiran, sikap dan perilaku, tidak hanya merupakan fakta kosmologis tetapi sejauh perjalanan umat manusia, para nabi dan rasul-Nya melaksanakan dan mengamalkannya.

Dari sini terdapat tuntutan bahwa jika Islam sebagai jalan hidup — yang bersifat kaffah — maka keislaman seseorang hanya akan dapat diwujudkan ketika kekaffahannya secara integral dan paripurna — direfleksikan tanpa memilah satu aspek dari aspek lainnya — sehingga menjadi manusia sosial yang rabbani: hidup di tengah masyarakat manusia dengan bimbingan Ilahi dalam keyakinan, pemikiran, sikap dan perbuatan. Kekaffahan Islam juga menuntut reorientasi dan restrukturisasi yang berangkat dari landasan pokok sistem Islam yaitu tauhid dalam kehidupan Muslim untuk diterjemahkan dalam kehidupan secara utuh. Sebab interpretasi partikularistik mengenai Islam hanya sekedar sebagai satu keyakinan (faith) tidak akan mampu menjelaskan raison d’etre konflik antara penduduk Makkah dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seandainya Islam hanyalah sekedar sebagai agama — dalam pengertian sempit — maka masyarakat Quraisy akan dengan mudah menyesuaikan diri dengan Islam. Akan tetapi karena Islam adalah ad-Din, maka ia memberi implikasi suatu revolusi pemikiran di semua aspek kehidupan. (Bersambung  )

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: