MEMBUMIKAN SIFAT AMÂNAH DI TENGAH KOMUNITAS UNISMA BEKASI (Bagian 1)

PENDAHULUAN

“Amânah ”  dalam konteks  I’tiqodiyyah (baca: Persoalan keimanan) merupakan salah satu dari empat sifat yang wajib bagi para nabi dan rasul yang wajib kita imani dengan sepenuh hati tanpa ada keraguan dan keberatan sedikitpun. Al- amânah  bukan sekedar label yang melekat pada diri para nabi dan rasul sebagai  panutan (baca: imam) para umat  sesuai dengan tugas  risalah mereka masing . Di dalam menjalankan misi tidak sedikit mereka mengalami hambatan, tantangan, gangguan dan ancaman  dari masing-masing kaumnya  sebelum mereka memperoleh pengakuan dan kesuksesan dari umat masing-masing.

Di antara Nabi  yang mengalami hal di atas  adalah  Nabi  Yunus bin Matta  lari  dari  kaumnya  dan sempat  berada   berada di dalam perut ikan besar  bernama “Nun” selama beberapa  waktu.  Ibnu Atsir dalam kitabnya al-Kamil fi al-Tarikh juz 1 halaman 130 menjelaskan bahwa Nabi Yunus merupakan salah seorang nabi dan rasul yang nasabnya dikaitkan dengan ibunya bernama Matta sebagaimana halnya nabi Isa bin Maryam. Beliau tinggal di Muushul tepatnya di Ninawa.

Kaumnya menyembah berhala. Maka, Allah mengutusnya untuk melarang untuk menyembah berhala tersebut dan memerintahkan mereka untuk bertauhid. Ia tinggal bersama mereka selama 3 hari 33 tahun untuk mengajak mereka bertauhid dan mendapatkan pengikut hanya dua orang laki-laki mukmin. Keputusasaan melanda dirinya maka Allah pun menyindirnya dengan  ungkapan “Alangkah cepatnya engkau mendakwahi para hamba-Ku. Maka kembalilah kepada mereka selama 40 hari. 37 hari berselang  tidak ada satu orang pun yang  mengikutinya. Allah pun berfirman kepadanya “Sesunguhnya azab-Ku akan turun 3 hari mendatang yang ditandai dengan berubah warna-warna kulit mereka.

Pada malam ke 40 maka keluarlah Nabi Yunus dari kaumnya. Keseokan harinya azab pun datang berupa asap hitam pekat  menerpa seluruh penjuru kota. Manakala mereka telah mengalami kehancuran, barulah mereka mencari Nabi Yunus yang sudah pergi jauh meningalkan kaumnya sebagai resiko menjalankan  amânah  Allah.

Begitu pula penderitaan yang dialami oleh Nabi Ibrahim  dengan dibakar hidup-hidup oleh penguasa Namudz yang kejam dan sadis. Nabi Musa pernah  dimusuhi dan terusir dari kampung halamannya  akibat  kekejaman  Fir’aun  yang mengaku Allah . Nabi Isa di dalam menjalankan misinya  juga mendapat tantangan hebat penguasa pada saat itu dan nayris  trbunuh di tiang salib. Beruntung  Nabi Isa diselamatkan  Allah  dengan diangkat ke tempat yang sampai saat  masih belum jelas posisinya.

Rasulullah  SAW  menyampaikan kepada umatnya  bahwa pada akhir zaman  akan turun untuk  menghancurkan  berbagai bentuk penyimpangan  aqidah  serta mengembalikan manusia  pada akhir zaman itu ke jalan yang lurus  menuju ridha Allah.

Pembaca  yang  budiman

Bagaimana halnya dengan Nabi Muhammad  SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir. Apakah  perjalanan  misi  berjalanan mulus tanpa hambatan, tantangan, gangguan dan ancaman  sebagaimana yang pernah dialami oleh para nabi dan rasul sebelumnya. Para ahli sejarah mencatat bahwa  Nabi Muhammad  merupakan satu-satunya nabi dan rasul  yang  meperoleh perlakuan istimewa dari Allah SWT  sejak  masih di dalam kandungan sampai akhir kehidupannya.

Kelahirannya  menggoncangkan dua imperium besar  Romawi dan Persia. Allah  menyiapkannya  dan menghiasinya  dengan sifat-sifat terpuji  sehingga mendapat  predikat “al-Amin”.  Menjelang usia 40 tahun  hati dan fikirannya terusik oleh perilaku  masyarakat  jahiliyah  paganis, tidak bermoral, perang antar suku, perasaingan  dalam bersyair  dengan lantunan untaian kata yang amat memikat di sebuah pasar tahunan  Ukkaz dan Dzu al-Majaz

Berangkat dari kondisi di atas Nabi Muhammad memutuskan  untuk berkhalwat  di gua  Hira dan  pergi-pulang selama 40 malam. Pada suatu malam yang sunyi dan gelap, tiba-tiba datang  sosok makhluk Allah (baca :malaikat)  dalam wujud aslinya. Kepalanya di langit sedangkan kakinya menapak ke bumi. Sehingga Nabi gemetar  ketakutan. Di dalam suasana yang  mencekam itu, tiba-tiba  malaikat itu berkata  seraya memeluk Nabi Muhammad  dengan erat  sambil berucap  “iqra ya Muhammad ! “  Nabi  Menjawab “ Ma  ana biqoriin” .

Hal itu berulang sampai tiga kali dengan perintah dan jawaban yang sama. Setelah berulang-ulang  maka  malaikat itu pun membacakan  wahyu pertama yang diturunkan  yaitu surat al-Alaq  ayat 1 sampai 5  sebagai  penobatan sebagai nabi. Kemudian  wahyu ke dua turun sebagai pengangkat Muhammad sebagai Rasul Allah untuk seluruh alam semesta. Sejak diterima wahyu ke dua itulah  Rasulullah mulai mengemban al- amânah  Alllah untuk menyeru manusia untuk  masuk Islam. Dalam waktu singkat ia berhasil  mengajak  orang-orang terdekat untuk masuk Islam seperti Siti Khadijah, Abu Bakar, dan Ali. Setelah itu disusul dengan mauk Islamnya tokoh Quraisy untuk menyatakan diri masuk Islam. Misi Rasulullah tidak selamnya mulus tanpa hambatan dan tantangan.

Dari uraian singkat di atas  dapat diketahui bahwa  mengemban  amânah  Allah  amatlah berat, sulit dan melelahkan. Melalui rubrik pojok dosen inilah penulis  sebagai pemerhati kajian-kajian Ke-Islaman  (Islamic Studies) berbasis karya para ulama salaf dan modern akan memaparkan  beberapa  persoalan yang berhubungan dengan sifat  amânah . Pada bagian pertama  dari dua tulisan  akan  diuraikan  teoretik . Sedangkan,  pada bagian kedua akan diuraikan pada tataran praksis bagaimana langkah-langkah yang ditawarkan  dengan harapan  sifat al- amânah  dapat dibumikan di Unisma Bekasi  secara bertahap dan berkesinambungan. snya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Hakikat   Amânah   Dalam Al-Quran dan Al-Hadis

Kata amânah (اَمَانَة) adalah bentuk mashdar dari kata kerja amina – ya’manu – amnan – wa amânatan (اَمَانَةً وَ -اَمْنًا  -يَأْمَنُ – اَمِنَ). Kata kerja ini berakar dengan huruf-huruf hamzah (حَمْزَة), mîm (مِيْم), dan nûn (نُوْن), yang bermakna pokok “aman”, “tenteram”, “tenang”, dan “hilangnya rasa takut”. Pakar bahasa, Ibrahim Mustafa menjelaskan bahwa amânah mengandung arti “pelunasan” dan “titipan”. Dalam bahasa Indonesia, amânah berarti “yang dipercayakan (dititipkan) kepada orang”, “keamanan atau ketenteraman”, dan “dapat (boleh) dipercaya atau setia”.

Kata amânah (اَمَانَة), baik dalam bentuk mufrad maupun jamak disebutkan sebanyak enam kali di dalam Al-Quran. Kata amânah dalam bentuk mufrad ditemukan pada S. Al-Baqarah [2]: 283 dan S. Al-Ahzâb [33]: 72, sedangkan dalam bentuk jamak ditemukan pada S. An-Nisâ’ [4]: 58, S. Al-Anfâl [8]: 27, S. Al-Mu’minûn [23]: 8, dan S. Al-Ma‘ârij [70]: 32.

Al-Quran menggunakan kata amânah (اَمَانَة) — bentuk mufrad — antara lain dalam konteks pembicaraan tentang perdagangan berupa jaminan yang harus dipegang oleh orang yang al- amânah  (jujur).  Hal ini ditegaskan di dalam S. Al-Baqarah [2]: 283. Menurut al-Maraghi, apabila kalian saling mempercayai karena kebaikan dugaan bahwa masing-masing dimungkinkan tidak akan berkhianat atau mengingkari hak-hak yang sebenarnya, maka pemilik uang boleh memberikan utang kepadanya. Setelah itu, orang yang berutang hendaklah bisa menjaga kepercayaan ini dan takutlah kepada Allah, serta jangan sekali-kali mengkhianati al- amânah  yang diterimanya. Utang dikatakan sebagai al- amânah  karena orang yang memberi utang percaya kepadanya tanpa mengambil sesuatu pun sebagai jaminan. Jadi, kata amânah di sini mengacu pada pengertian khusus dalam bidang muamalah, yakni kewajiban seseorang berlaku jujur dalam membayar utangnya.

Penggunaan kata amânah lainnya adalah dalam konteks pembicaraan tentang kesediaan manusia melaksanakan al- amânah  yang ditawarkan oleh Allah Swt, setelah sebelumnya tidak satu pun makhluk yang sanggup memikulnya.  Hal ini dinyatakan di dalam S. Al-Ahzâb [33]: 72. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kata al- amânah (اَلاَْمَانَة) di dalam ayat ini adalah ‘ath-thâ‘ah’  (اَلطَّاعَة = ketaatan atau kepaAllah ) yang ditawarkan Allah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung sebelum ditawarkan kepada bapak manusia, Adam As. Langit dengan segala hormat menolak tawaran itu.

Demikian juga, karena sangat beratnya, bumi dan gunung-gunung pun menyatakan keengganannya. Akan tetapi, manusia siap menerima dan memelihara al- amânah  itu dengan sebaik-baiknya. Fakhrur Razi di dalam Tafsîr Al-Kabîr mengemukakan bahwa kata al- amânah (اَلاَْمَانَة) di sini bermakna “at-taklif” (اَلتَّكْلِيْف = pembebanan) karena orang yang tidak sanggup memenuhinya berarti membuat utang atas dirinya. Adapun orang yang melaksanakannya akan memperoleh kemuliaan. Dalam kaitan itu, Abdullah Yusuf Ali menyatakan bahwa kata-kata langit, bumi, dan gunung-gunung pada ayat tersebut mengandung makna simbolik. Maksudnya, untuk membayangkan bahwa  amânah  itu sedemikian berat, sehingga benda-benda seperti langit, bumi, dan gunung-gunung yang cukup kuat serta teguh sekalipun, tidak sanggup menanggung  dan memikulnya.

Kata al-amânât (اَلاَْمَانَات) — bentuk jamak — digunakan oleh Al-Quran antara lain dalam konteks pembicaraan tentang perintah Allah agar manusia menunaikan al- amânah  kepada pemiliknya. Allah Swt. Berfirman di dalam S. An-Nisâ’ [4]: 58. Rasyid Ridha menegaskan bahwa al-amânât (اَلاَْمَانَات) di sini digunakan sebagai ism maf‘ûl (اِسْم مَفْعُوْل), yakni kata sifat selaku obyek dengan pengertian “segala sesuatu yang dipercayakan seseorang kepada orang lain dengan rasa aman”. Menurut Ath-Thabari, ayat ini ditujukan kepada para pemimpin (penguasa) agar menunaikan hak-hak umat Islam, seperti penyelesaian perkara rakyat yang diserahkan kepada mereka untuk ditangani dengan baik dan adil. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa al-amânât dimaksudkan berkaitan dengan banyak hal, salah satu di antaranya adalah perlakuan adil. Keadilan yang dituntut ini bukan hanya terhadap kelompok, golongan, atau kaum muslim saja, melainkan mencakup semua manusia, bahkan seluruh makhluk. Namun, seiring dengan al- amânah  yang dibebankan kepada para penguasa, juga ditekankan kewajiban taat rakyat terhadap mereka. Pendapat lain dikemukakan oleh Al-Maraghi, yang mengklasifikasi al- amânah  atas: (1) tanggung jawab manusia kepada Allah ; (2) tanggung jawab manusia kepada sesamanya; dan (3) tanggung jawab manusia kepada dirinya sendiri. Sementara itu, Tanthawi Jauhari ketika menafsirkan ayat di atas, merumuskan cakupan makna kata al-amânât (اَلاَْمَانَات) yang cukup luas, yaitu segala yang dipercayakan orang berupa perkataan, perbuatan, harta, dan pengetahuan; Atau segala nikmat yang ada pada manusia yang berguna bagi dirinya dan orang lain. Jadi, kalau Al-Maraghi melihat term al- amânah  dari sudut pandang “kepada siapa amânah  harus dipertanggungjawabkan”, maka Tanthawi merumuskan lebih abstrak lagi, karena tidak saja berdasarkan pertanggungjawaban tetapi juga kegunaan yang terkandung dalam al- amânah  itu.

Pada sisi lain, ditemukan pula penggunaan kata amânâtikum (اَمَانَاتِكُمْ) yang disandarkan kepada manusia yang beriman, yakni di dalam S. Al-Anfâl [8]: 27. Menurut Asy-Syaukani, ayat ini  melarang orang-orang beriman untuk mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan mengkhianati al- amânah  sesama manusia. Dengan begitu, ada dua jenis al- amânah , yaitu: Pertama,  amânah  Allah  dan Rasul-Nya berupa aturan-aturan dan ajaran-ajaran agama yang harus dilaksanakan; Kedua, amânah  manusia berupa sesuatu, yang bersifat materil atau non-materil, yang dipercayakan seseorang kepada orang lain dengan maksud tertentu sesuai ajaran agama.

Dua kata amânât (اَمَانَات) sisanya — dalam bentuk jamak — walaupun ditemukan di tempat yang berbeda namun redaksinya sama, yaitu pada S. Al-Mu’minûn [23]: 8 dan S. Al-Ma‘ârij [70]: 32. Untuk kata  li amânâtihim (لِأَمَانَاتِهِمْ) pada ayat yang disebutkan pertama digunakan dalam konteks pembicaraan tentang salah satu di antara tujuh sifat yang membuat orang-orang beriman beruntung adalah menjaga al- amânah . Karena itu, Al-Maraghi mengaitkan al- amânah  di sini dengan sesuatu yang dipercayakan kepada manusia, baik yang berasal dari Allah Swt, seperti tugas-tugas keagamaan, maupun dari sesama manusia, seperti perikatan dan sebagainya. Adapun penggunaan kata yang sama pada ayat yang disebutkan kedua adalah dalam konteks pembicaraan tentang salah satu cara yang bisa membebaskan manusia dari rasa keluh kesah dan sifat kikir, yaitu dengan memelihara al- amânah . Jadi, al- amânah  yang dikehendaki di sini adalah pemenuhan hak-hak manusia, baik terhadap dirinya sendiri, orang lain, maupun kepada Allah, serta bertanggung jawab terhadap kepercayaan yang diterimanya untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Secara bahasa, amânah (al- amânah ) dapat diartikan sesuatu yang dipercayakan atau kepercayaan. Al- amânah  juga berarti titipan (al-wadî‘ah). Al- amânah  adalah lawan dari khianat. Al- amânah  terjadi di atas ketaatan, ibadah, al-wadî’ah (titipan), dan ats-tsiqah(kepercayaan).
Al-Isfahani memaknai al- amânah  dengan ketenteraman jiwa (tu’maninatun al-nafs). Farid Wajdi menterjemahkan al- amânah  dengan sukun al-qalb (ketenteraman hati). Lawan dari kata al- amânah  adalah khianat. Dari akar kata ini juga terbentuk kata iman dan amin.

Al-Qurthubi menyatakan, al- amânah  bersifat umum mencakup seluruh tugas-tugas keagamaan. Ini adalah pendapat jumhur. Asy-Syaukani menukil pendapat al-Wahidi, bahwa al- amânah  di sini menurut pendapat seluruh ahli tafsir adalah ketaatan dan kewajiban-kewajiban yang penunaiannya dikaitkan dengan pahala dan pengabaiannya dikaitkan dengan siksa. Ibn Mas‘ud berkata, bahwa al- amânah  di sini adalah seluruh kewajiban dan yang paling berat adalah al- amânah  harta. Sedangkan Ubay bin Ka‘ab berpendapat bahwa di antara al- amânah  adalah dipercayakannya kepada seorang wanita atas kehormatannya.

Mujahid berpendapat, al- amânah   adalah kewajiban-kewajiban dan keputusan-keputusan agama. Sedangkan Abu al-’Aliyyah berpendapat, al- amânah  adalah apa-apa yang diperintahkan-Nya dan apa-apa yang dilarang-Nya.
Orang yang beriman dipastikan akan memperoleh rasa aman dan tenteram. karena ia akan merasa mendapatkan penjagaan dari Allah Swt. Sebaliknya orang yang diselimuti dengan berbagai macam kegelisahan dan ketakutan, dipastikan sedang mengalami krisis iman.

Dengan demikian, kata amânah (اَمَانَة) di dalam Al-Quran mencakup  amânah  kepada Allah , sesama manusia, dan kepada diri sendiri. Al- amânah  kepada Allah  dan sesama manusia dapat dinyatakan sebagai al- amânah  Allah dan Rasul-Nya berupa aturan dan ajaran-ajaran agama yang harus dilaksanakan. Al- amânah  kepada sesama manusia dapat pula berupa sesuatu, baik materil maupun non-materil, yang dipercayakan seseorang kepada orang lain dengan rasa aman dan tenteram. Adapun al- amânah  kepada diri sendiri berupa segala nikmat yang ada pada manusia yang berguna bagi dirinya sendiri, sehingga yang bersangkutan memiliki sifat jujur dan dapat dipercaya.

Pada awalnya “ amânah ”  pernah ditawarkan  oleh Allah kepada Langit dan bumi serta gunung yang kokoh. Semuanya menolak  karena khawatir tidak mampu menjalankan al- amânah  itu  sesuai dengan ketentuan pemberi al- amânah . Ungkapan itu dapat kita temukan di dalam salah satu firman Allah pada surat al-Ahzab ayat 72 sebagai berikut :

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh,

Imam al-Bhagawy  dalam tafsirnya Maalim al-Tanzil  juz halaman  427 menjelaskan ayat di atas sebagaimana dikutip dari sahabat Abdullah ibn Abbas ra bahwa yang dimaksud dengan al- amânah  adalah ketaatan dan kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan oleh Allah kepada hamba-Nya  dan pernah ditawarkan kepada langit, bumi dan gunung  dengan ketentuan jika mereka  melaksanakannya akan diberi ganjaran (pahala) dan jika mereka meyaia-nyaiakannya akan diberi siksa.

Ibnu Masud mengeatakan bahwa al- amânah  adalah melaksanakan salat lima waktu, mengelaurkan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, berhajji, jujur dalam berkata, membayar hutang, berbuat adil di dalam hal menakar dan menimbang dan yang paling berat bahwa semua ini adalah titipan.

Lebih lanjut Al-Bhagawy menguraikan sebagaimana penjelasan yang dikuti dari Abdullah ibn Amr ibn al-Ash yang mengatakan bahwa yang pertama kali Allah ciptakan pada manusia adalah alat kelaminnya. Maka dalam hal alat kelamin terdapat al- amânah . Pada telinga, mata, tangan dan kaki terdapat al- amânah . Tidak ada sedikitpun iman terhadap orang yang tidak memelihara al- amânah  dengan baik. Ulama lain mengatakan bahwa seluruh al- amânah  dan penepatan terhadap janji-janji terhadap manusia.

Amânah  dalam arti tanggungjawab personal manusia kepada Alloh
Alasan penolakan alam (bumi, langit dan sebagainya) terhadap al- amânah  (QS. Al-Ahzab: 72) adalah karena mereka tidak memiliki potensi kebebasan seperti manusia. Padahal untuk menjalankan al- amânah  diperlukan kebebasan yang diiringi dengan tanggung jawab. Oleh sebab itu, apapun yang dilakukan bumi, langit, gunung terhadap manusia, walaupun sampai menimbulkan korban jiwa dan harta benda, tetap saja “benda-benda alam” itu tidak dapat diminta pertanggungjawabannya oleh Allah. Berbeda dengan manusia. Apapun yang dilakukannya tetap dituntut pertanggungjawaban.

Pada bagian akhir ayat di atas  terdapat hal yang amat menarik untuk dicermati lebih serius  yaitu berkenaan dengan statement Allah yang mengatakan bahwa kesanggupan manusia  untuk menerima al- amânah  merupakan tindakan zalim dan bodoh.

Ibn Abbas menafsirkan hal di atas karena manusia menzalimi dirinya sendiri dan bodoh terhadap perintah Allah  serta apa saja yang terkandung di dalam al- amânah  tersebut.

Fenomena yang terjadi saat ini adalah seringkali al- amânah  dijadikan sebuah komoditi untuk meraih kekuasaan atau materi (dunia). Sehingga saat ini banyak sekali orang yang meminta al- amânah  kepemimpinan dan jabatan, padahal belum tentu orang tersebut mempunyai kapabilitas untuk menjalankan al- amânah  itu. Rasulullah mengancam akan hancurnya sebuah bangsa dengan sabdanya sebagai berikut :

Bila al- amânah  disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya”. (H.R. Bukhari).

amânah  menempati posisi ‘strategis’ dalam syariat Islam. Rasulullah saw sendiri mendapat gelar Al Amin (yang bisa dipercaya). Al- amânah  menjadi salah satu pembeda kaum muslim dengan kaum munafik. Sebagaimana sabda Rasulullah dari Abu Hurairah:

آية المنافق ثلاث :- إذا حدث كذب ، وإذا أوعد أخلف ، وإذا أؤتمن خان (متفق عليه)

“Tanda-tanda munafik itu ada tiga: apabila bicara, dia dusta; apabila berjanji, dia ingkari; dan apabila dipercaya (al- amânah ), dia berkhianat”. (Hadist Sohih).

Dengan demikian, meminta jabatan (al- amânah ) sebagai pemimpin merupakan  perbuatan yang dicela. Al- amânah  akan menjadi penyesalan di akhirat kelak. Betapa tidak, jika seorang yang mendapat al- amânah  tidak menjalankan dengan baik, mengingkari janjinya dan menipu saudaranya maka ia diharamkan masuk surga. Rasulullah mengancam pemimpin yang menghianati dan menyelewengkan al- amânah  yang telah di bebankan kepadanya dengan ancaman berat.

Dari ayat al-Quran  dan  hadis Rasulullah di atas terdapat hal yang menarik untuk kita  cermati  yaitu terkait  perolehan al- amânah  yang diberikan oleh Allah bahwa al- amânah  adalah suatu kehormatan yang diraih karena ditawarkan oleh pemilik al- amânah . Maka, untuk mendapatkan tawaran tentunya kita harus  memiliki kapasitas sesuai dengan persyaratan yang ditentukan oleh pemberi al- amânah . Pada dasarnya  al- amânah   seluruh yang sedang kita nikmati adalah al- amânah  dari Allah  penguasa alam semesta  dan pada suatu saat akan diambil kembali apa saja yang kita miliki  dengan mudah  dalam waktu singkat  tanpa kita dapat mencegah dan mepertahankannya. (Bersambung bagian 2)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: